Home Sekitar Kita Ada kemustahilan yang tak bisa di jelaskan oleh logika, hanya bisa di rasakan oleh hati

Ada kemustahilan yang tak bisa di jelaskan oleh logika, hanya bisa di rasakan oleh hati

68
0
SHARE
Ada kemustahilan yang tak bisa di jelaskan oleh logika, hanya bisa di rasakan oleh hati

Kartanews - Di tengah kehancuran dan sunyi yang ditinggalkan tragedi, terkadang tersisa satu hal yang tetap utuh—pengabdian.
Kabut turun lebih awal di Gunung Bulusaraung pagi itu, menutup lereng-lereng curam seperti tirai duka yang enggan dibuka. Angin dingin menyelinap ke sela jaket para anggota Tim SAR yang sejak subuh menyisir jurang demi jurang, berharap menemukan tanda kehidupan, atau setidaknya jawaban.

Saiful Malik melangkah perlahan di lereng kanan gunung. Setiap pijakan terasa seperti doa yang ditahan di dada. Di hadapannya, pohon-pohon patah dan batu-batu pecah menjadi saksi bisu sebuah peristiwa yang tak sempat dicegah. Hatinya bergetar ketika matanya menangkap sosok itu

—diam, tersangkut pada sebatang kayu di kedalaman jurang hampir 300 meter.
Ia mendekat dengan napas tertahan.
Seragam pramugari itu masih utuh. Rapi. Seolah pemiliknya masih berdiri dalam tugas terakhirnya. Di dadanya, sebuah nametag kecil masih melekat, berkilau samar di antara kabut dan gerimis.
Florencia.

Nama itu bukan sekadar identitas. Ia adalah seorang anak, seorang sahabat, seseorang yang pernah menyapa dengan senyum tulus di kabin pesawat. Seseorang yang mungkin berangkat dengan doa keluarga dan harapan sederhana tentang hari esok.

Cuaca tak bersahabat. Kabut menebal, jarak pandang hanya sekitar satu meter. Proses evakuasi pun berjalan dengan penuh kehati-hatian. Alam seakan meminta waktu—memberi ruang sunyi terakhir bagi Florencia di tempat ia ditemukan. Di sekitarnya, serpihan pesawat terdiam, menjadi potongan cerita tentang peristiwa yang tak pernah sempat diceritakan.

Tak ada suara. Tak ada pesan. Hanya kesunyian gunung dan nama yang masih setia melekat di dadanya—seolah ia ingin dunia tahu bahwa ia ada, dan ia telah menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab hingga akhir.

Ketika proses evakuasi selesai, banyak mata yang basah, meski tak semua mengenalnya. Di gunung itu, Florencia bukan sekadar korban. Ia menjadi simbol keteguhan, pengabdian, dan kehilangan yang meninggalkan duka mendalam.

Gunung Bulusaraung kembali diselimuti kabut. Namun nama Florencia Lolita tinggal lebih lama—di hati mereka yang menemukannya, dan di ingatan mereka yang menunggu kepulangannya, dengan harapan yang kini berubah menjadi doa.

Penulis : Sajak Rindu
Sumber gambar: ilustrasi AI